PRINGSEWU // MEDIATNI-POLRI.COM / Memperingati Hari Kartini 2026, Pita Putih Indonesia (PPI) menggelar webinar nasional bertema ‘Refleksi Semangat Kartini dalam Memutus Rantai Pernikahan Remaja dan Komplikasi Maternal’ pada Rabu, (13/5/2026), dengan narasumber sejumlah pakar kesehatan, akademisi, praktisi kebidanan, hingga pemangku kebijakan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan reproduksi, pernikahan usia dini, dan keselamatan maternal.
Menurut Ketua Panitia Webinar, Sri Wahyuni, A.Md.Keb., SKM., M.KM., tema tersebut berangkat dari refleksi perjuangan RA Kartini yang tidak hanya berbicara tentang pendidikan perempuan, tetapi juga hak perempuan atas kesehatan dan keselamatan hidupnya.
“Semangat Kartini di era modern perlu dimaknai sebagai perjuangan memastikan setiap perempuan mendapatkan akses kesehatan yang berkualitas dan keselamatan saat menjalani proses kehamilan maupun persalinan,” ujarnya.
Kegiatan ini, kata Sri, juga menjadi bagian dari advokasi Pita Putih Indonesia dalam mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan kesehatan perempuan dan anak.
“PPI berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya pernikahan dini dan komplikasi maternal semakin meningkat. Selain itu, forum ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi tenaga kesehatan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi kesehatan perempuan dan anak,” ucapnya.
Pita Putih Indonesia sendiri, lanjutnya, merupakan organisasi yang dibentuk sejak 1999 dan bergerak dalam advokasi kesehatan ibu dan anak, dan aktif mendorong edukasi kesehatan reproduksi, penguatan kapasitas masyarakat, serta kampanye keselamatan ibu hamil dan bayi baru lahir di berbagai daerah di Indonesia.
Pada diskusi webinar yang dipandu Dr. Sri Rahayu, S.Si.T., Bd., MARS. sebagai moderator, dr. Lovely Daisy, M.KM. dari Ditjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI menjelaskan kebijakan nasional dalam menekan angka pernikahan dini serta strategi percepatan penurunan angka kematian ibu di Indonesia.
Menurutnya, edukasi keluarga dan penguatan layanan kesehatan primer menjadi faktor penting dalam menurunkan risiko kehamilan remaja.
Narasumber lainnya, Kadis Kesehatan Provinsi Banten, Dr.dr.Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS., memaparkan kondisi pernikahan dini dan kehamilan remaja di wilayahnya.
Ia menjelaskan bahwa pernikahan usia anak masih berkontribusi terhadap meningkatnya kerentanan kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok masyarakat dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Eros Rosita, S.ST., seorang tenaga bidan yang bertugas di wilayah suku Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, turut membagikan pengalamannya di lapangan mengenai pentingnya peran bidan sebagai garda terdepan dalam edukasi keluarga dan deteksi dini komplikasi kehamilan di tingkat pelayanan.
Sedangkan Konsultan Kesehatan Reproduksi Maternal dan Neonatal Pita Putih Indonesia, dr. Pancho Kaslam, DRM., M.Sc. memaparkan pentingnya upaya peningkatan keselamatan ibu dan bayi melalui pencegahan komplikasi yang sebetulnya dapat dideteksi sejak dini.
Beberapa nama lainnya yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, adalah Ketua Umum Pita Putih Indonesia, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., serta Ketua Harian Pita Putih Indonesia, dr. Heru Kasidi, M.Sc., yang turut memberikan dukungan terhadap penguatan edukasi kesehatan maternal di masyarakat.
(*)




























