CEBU, FILIPINA, MEDIATNI-POLRI.COM ~ Presiden RI Prabowo Subianto menyerukan penguatan kolaborasi konkret guna menjawab tantangan global dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA). Pertemuan ini berlangsung di tengah rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, Kamis (07/05/2026).
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa BIMP-EAGA harus bertransformasi menjadi organisasi yang lebih lincah dan berdampak langsung bagi masyarakat. Ia menilai, visi BIMP-EAGA 2035 sudah memberikan arah strategis yang tepat, namun efektivitasnya sangat bergantung pada eksekusi di lapangan.
”Prioritas utama kita adalah melindungi keselamatan dan taraf hidup masyarakat. Kita punya visi besar untuk 2035, tapi tantangan sesungguhnya adalah memastikan implementasi yang nyata dan dirasakan manfaatnya,” ujar Presiden.
Transformasi Energi Terbarukan
Isu ketahanan energi menjadi salah satu poin krusial yang diangkat Kepala Negara. Presiden Prabowo memandang kawasan BIMP-EAGA memiliki modalitas besar untuk menjadi pemimpin energi hijau. Ia mendorong langkah-langkah berani untuk mengoptimalkan potensi alam yang ada, meliputi:
Optimasi Tenaga Air: Percepatan pengembangan infrastruktur di wilayah Borneo.
Ekspansi Tenaga Surya: Perluasan proyek strategis di Palawan.
Energi Angin: Pemanfaatan potensi wilayah pesisir yang selama ini belum tergarap maksimal.
Konektivitas dan Ketahanan Pangan
Selain sumber energi, Presiden menggarisbawahi pentingnya Trans Borneo Power Grid. Peningkatan kapasitas jaringan listrik ini dinilai vital agar distribusi energi di subkawasan berjalan lebih efisien dan terintegrasi.
Menutup arahannya, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa ketahanan energi harus berjalan beriringan dengan ketahanan pangan. Menurutnya, kedua hal tersebut adalah fondasi utama dalam menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Melalui forum ini, Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan BIMP-EAGA sebagai pusat pertumbuhan yang resilien, berkelanjutan, dan inklusif di kawasan Asia Tenggara.
Sumber: BPMI Setpres



























