PAPUA PEGUNUNGAN // MEDIATNI-POLRI.COM / Ketua Umum Badan Pengurus Harian (BPH) Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Yahukimo (HPMY) Se-Jawa Bali dan Sumatera, YANAIS N. YALAK, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap konflik horizontal yang terjadi antara suku Lani dan Hubula di Provinsi Papua Pegunungan.
Dalam pernyataannya, Ketua Umum HPMY menilai bahwa perang suku yang terjadi telah membawa dampak buruk terhadap kehidupan masyarakat, mengganggu keamanan, menimbulkan korban kemanusiaan, serta menciptakan ketakutan di tengah masyarakat Papua Pegunungan.
Menurutnya, konflik tersebut harus segera dihentikan melalui pendekatan damai dan dialog bersama demi menjaga persatuan masyarakat Papua.
> “Kami dari HPMY Se-Jawa Bali dan Sumatera sangat prihatin atas konflik antara suku Lani dan Hubula di Papua Pegunungan. Konflik ini tidak boleh terus berlangsung karena masyarakat sipil menjadi korban dan masa depan generasi muda Papua ikut terancam,” ujar YANAIS N. YALAK.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Papua pada dasarnya hidup dalam nilai persaudaraan, kekeluargaan, dan saling menghormati antar sesama. Karena itu, perang suku dinilai hanya akan merusak hubungan sosial dan persatuan masyarakat Papua Pegunungan.
Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Diminta Menjadi Pendamai
Ketua Umum HPMY meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan konflik yang sedang berlangsung.
Ia mendesak:
1. Pemerintah Kabupaten Yahukimo,
2. Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya,
3. Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan,
agar hadir sebagai pendamai dan mediator dalam menyelesaikan konflik antara kedua kelompok masyarakat.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian akibat konflik horizontal yang berkepanjangan.
> “Pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi harus segera turun tangan menjadi pendamai dan mediator agar konflik ini dapat diselesaikan secara damai melalui dialog dan rekonsiliasi,” tegasnya.
Selain itu, HPMY juga meminta pemerintah untuk memberikan perhatian terhadap masyarakat terdampak, khususnya perempuan, anak-anak, dan warga yang mengungsi akibat konflik tersebut.
Pimpinan Gereja Diminta Ambil Peran Perdamaian
Dalam keterangannya, YANAIS N. YALAK juga meminta seluruh pimpinan gereja di Papua Pegunungan agar turut mengambil bagian dalam upaya perdamaian.
Menurutnya, gereja memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Papua dan mampu menjadi jembatan rekonsiliasi antara kedua pihak yang bertikai.
> “Kami meminta pimpinan gereja di Papua Pegunungan untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa damai. Gereja harus menjadi tempat pemersatu dan mengedepankan nilai kasih serta kemanusiaan,” katanya.
Ia berharap gereja bersama tokoh adat dan pemerintah dapat segera melakukan:
1. Pertemuan damai,
2. Dialog adat,
3. Doa bersama,
4. Mediasi antar pihak yang bertikai,
guna menghentikan perang suku dan memulihkan hubungan persaudaraan masyarakat.
Mahasiswa Papua Diajak Menjadi Pelopor Perdamaian
Ketua Umum HPMY Se-Jawa Bali dan Sumatera juga mengajak seluruh mahasiswa dan generasi muda Papua agar menjadi pelopor perdamaian serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh situasi.
Ia menegaskan bahwa generasi muda Papua memiliki tanggung jawab menjaga persatuan dan masa depan Papua Pegunungan.
> “Papua membutuhkan kedamaian, bukan pertikaian. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persaudaraan dan menyelesaikan setiap persoalan melalui jalan damai,” tutup YANAIS N. YALAK.
BADAN PENGURUS HARIAN (BPH)
HIMPUNAN PELAJAR DAN MAHASISWA YAHUKIMO (HPMY)
SE-JAWA BALI DAN SUMATERA
PERIODE 2025–2027
(*)




























