OKI // MEDIATNI-POLRI.COM/ Api yang membakar lahan bukan satu-satunya persoalan dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Setelah bara padam dan asap menipis, masih ada pekerjaan lain: memastikan warga memahami cara mencegah kebakaran dan anak-anak yang terdampak kembali merasa aman.
Persoalan itu menjadi perhatian Polres Ogan Komering Ilir (OKI) bersama 11 peserta didik Sespim Lemdiklat Polri yang turun ke Kelurahan Perigi, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten OKI. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) dan Kuliah Kerja Profesi (KKP).
Para peserta didik tidak hanya datang untuk melihat penanganan karhutla dari dekat. Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat, memberikan edukasi tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan, sekaligus menggali pengalaman lapangan mengenai penanganan karhutla di wilayah OKI.
Warga diajak memahami bahwa pencegahan dimulai sebelum api muncul. Pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar dapat memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama ketika kondisi lahan kering dan angin bertiup kencang.
Pesan itu disampaikan secara langsung kepada masyarakat agar kewaspadaan tidak berhenti pada saat kabut asap muncul. Masyarakat juga didorong segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Namun, kegiatan di Kelurahan Perigi tidak hanya berbicara soal api.
Anak-anak yang terdampak karhutla mendapat perhatian melalui kegiatan trauma healing. Para peserta didik mengajak anak-anak berinteraksi dan bermain dalam suasana yang lebih santai.
Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi rasa takut maupun tekanan psikologis yang mungkin muncul setelah mereka mengalami dampak kebakaran.
Bagi Polres OKI, karhutla memiliki dampak yang lebih panjang daripada sekadar luas lahan yang terbakar. Ada lingkungan yang rusak, aktivitas warga yang terganggu, dan pengalaman yang dapat membekas pada anak-anak.
Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto, S.H., S.I.K., M.H. mengatakan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama. Pencegahan, menurut dia, tidak dapat hanya mengandalkan aparat.
“Karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mencegah api muncul, membangun kesadaran masyarakat, dan memastikan masyarakat yang terdampak mendapat perhatian,” ujarnya
Menurutnya, keterlibatan 11 peserta didik Sespim Lemdiklat Polri dalam PKDN dan KKP menjadi kesempatan untuk melihat persoalan karhutla secara nyata.
Teori yang diperoleh di lingkungan pendidikan dapat dibandingkan dengan kondisi yang dihadapi petugas dan masyarakat di lapangan.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan karhutla memiliki banyak wajah. Ada petugas yang berjibaku dengan api, masyarakat yang menjaga lingkungannya, dan anak-anak yang membutuhkan ruang untuk kembali merasa aman.
Di Kelurahan Perigi, pesan pencegahan disampaikan sebelum api menjadi lebih besar.
Sebab dalam urusan karhutla, api yang kecil bisa menjadi bencana besar. Dan ketika api telah padam, pekerjaan belum sepenuhnya selesai.
(*)




























